Jumat, 16 Januari 2015

KEPEDULIAN SOSIAL


  A. Pengertian Kepedulian Sosial
Kepedulian sosial yaitu sebuah sikap keterhubungan dengan kemanusiaan pada umumnya, sebuah empati bagi setiap anggota komunitas manusia. Kepedulian sosial adalah kondisi alamiah spesies manusia dan perangkat yang mengikat masyarakat secara bersama-sama (Adler, 1927). Oleh karena itu, kepedulian sosial adalah minat atau ketertarikan kita untuk membantu orang lain.
Lingkungan terdekat kita yang berpengaruh besar dalam menentukan tingkat kepedulian sosial kita. Lingkungan yang dimaksud di sini adalah keluarga, teman-teman, dan lingkungan masyarakat tempat kita tumbuh. Karena merekalah kita mendapat nilai-nilai tentang kepedulian sosial. Nilai-nilai yang tertanam itulah yang nanti akan menjadi suara hati kita untuk selalu membantu dan menjaga sesama. Kepedulian sosial yang di maksud bukanlah untuk mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih pada membantu menyelesaikan permasalahan yang di hadapi orang lain dengan tujuan kebaikan dan perdamaian.

B. Jenis-jenis Kepedulian Sosial
Kepedulian sosial dibagi menjadi 3, yaitu:
  • Kepedulian yang berlangsung saat suka maupun duka
 Kepedulian sosial merupakan keterlibatan pihak yang satu kepada pihak yang lain dalam turut merasakan apa yang sedang dirasakan atau dialami oleh orang lain.
  • Kepedulian pribadi dan bersama
Kepedulian bersifat pribadi, namun ada kalanya kepedulian itu dilakukan bersama. Cara ini penting apabila bantuan yang dibutuhkan cukup besar atau berlangsung secara berkelanjutan.
  • Kepedulian yang sering lebih mendesak       

Kepedulian akan kepentingan bersama merupakan hal yang sering mendesak untuk kita lakukan. Caranya dengan melakukan sesuatu atau justru menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu demi kepentingan bersama.

C. Sumber Kepedulian Sosial
Sumber kepedulian sosial berasal dari dua sumber, yakni :
1)      Bersumber dari cinta
Kepedulian sosial muncul dari kepekaan hati untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah empati, yang dapat diartikan sebagai kesanggupan untuk memahami dan merasakan perasaan-perasaan orang lain seolah-olah itu perasaan diri sendiri.
2)      Tidak karena macam-macam alasan
Kepedulian sosial yang kita kembangkan adalah kepedulian yang timbul dari hati yang terbuka mau berbagi untuk sesamanya tanpa didorong atau disertai alasan-alasan tanpa meminta imbalan apapun.

D. Hambatan dalam mewujudkan kepedulian sosial
Ada beberapa hal yang merupakan hambatan kepedulian sosial, diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Egoisme
Egoisme merupakan doktrin bahwa semua tindakan seseorang terarah atau harus terarah pada diri sendiri.
  • Materialistis
Merupakan sikap perilaku manusia yang sangat mengutamakan materi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya. Demi mewujudkan itu mereka umumnya tidak terlalu mementingkan cara untuk mendapatkannya.

E. Cara pembentukan sikap dan perilaku kepedulian sosial
  • Mengamati dan Meniru perilaku peduli sosial orang-orang yang diidolakan.
  • Melalui proses pemerolehan Informasi Verbal tentang kondisi dan keadaan sosial orang yang lemah sehingga dapat diperoleh pemahaman dan pengetahuan tentang apa yang menimpa dan dirasakan oleh mereka dan bagaimana ia harus bersikap dan berperilaku peduli kepada orang lemah.
  • Melalui penerimaan Penguat/Reinforcement berupa konsekuensi logis yang akan diterima seseorang setelah melakukan kepedulian sosial.

Tanggapan terhadap topik di atas
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, yang tidak bisa hidup sendiri. Oleh karna itu lumrah jika manusia memiliki kepedulian sosial terhadap sesama. Tetapi dengan semakin pesatnya teknologi-teknologi modern saat ini yang bisa menghubungkan individu dengan individu lain tanpa batasan ruang dan waktu, seperti facebook, twitter, dll. Membuat sebagian individu memiliki sifat individualistis yang dominan dikarnakan dampak dari perkembangan jaman dan teknologi ini, sehingga berpengaruhi terhadap kepedulian sosial individu saat ini. Oleh karna itu, topic diatas sangat penting untuk kita pahami dan pelajari, agar kepedulian sosial yang ada di kultur budaya kita bisa tumbuh kembali.
Implementasi terhadap diri sendiri
Setelah membaca topic diatas. Saya akan mencoba untuk sedikit demi sedikit menumbuhkan rasa kepedulian sosial. Sehingga saya bisa menjadi individu yang peka terhadap masalah – masalah sosial yang terjadi dalam hidup ini. Agar saya bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, seperti membantu teman/orang lain yang sedang kesusahan dan bisa memberi solusi terbaik dalam memecahkan suatu masalah.
Implementasi Terhadap Masyarakat
Setelah berusaha mengimplementasikan kepedulian sosial terhadap diri saya sendiri. Sekarang waktunya bagi saya untuk menerapkan sifat kepedulian sosial dalam bermasyarakat. Karna manusia adalah makhluk sosial, sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Seperti kita bergabung dalam suatu organisasi. Kita harus bisa membuang sifat egois dan materialistis, sehingga kita bisa melakukan semua kegiatan dalam organisasi tersebut dengan baik, seperti berperilaku adil dalam mengambil keputusan, membantu anggota lain yang lagi kesulitan dan lain sebagainnya 


PENGEMBANGAN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN SAINS DI
SEKOLAH DASAR
Tatang Suratno
Abstrak
Kreativitas atau berpikir kreatif merupakan kemampuan seseorang dalam menghasilkan gagasan
baru yang efektif dan etis. Tulisan ini memaparkan tentang pentingnya pengembangan kreativitas
anak sejak dini di pendidikan sekolah dasar. Diawali dengan deskripsi mengenai pengertian
kreativitas serta dimensi-dimensi kreativitas yang dapat mendasari penilaian guru mengenai
tingkat kreativitas siswa. Dimensi tersebut dikaitkan dengan dimensi keterampilan proses sains
yang dapat memandu guru dalam pengembangan pembelajaran yang menekankan pada proses
berpikir kreatif siswa. Beberapa contoh mengenai pembelajaran sains disediakan terutama untuk
menjelaskan bagaimana proses sains dan proses kreatif serta diferensiasinya. Di bagian akhir
penulis berpendapat bahwa pengembangan kreativitas menjadi penting sebagai bekal bagi anak
untuk menghadapi tantangan dan pemecahan masalah di era informasi yang penuh perubahan.
Kata kunci: kreativitas, dimensi kreatif, keterampilan proses sains,
PENDAHULUAN
Di era informasi dan komunikasi, Indonesia memerlukan sumberdaya manusia yang kreatif dan
terampil untuk menghasilkan karya inovatif. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan sekolah
dasar (SD) menekankan pada bagaimana memfasilitasi belajar siswa untuk berpikir kreatif agar
memiliki kompetensi untuk bekerja sama, memahami potensi diri, meningkatkan kinerja dan
berkomunikasi secara efektif dalam setiap pemecahan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu,
pembelajaran di SD tidak hanya bertujuan untuk pemahaman pengetahuan saja, tetapi juga
kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang kompleks.
Kehidupan modern sekarang ini tidak terlepas dari aspek ilmiah (scientific enterprise).
Berbagai temuan, baik teknologi maupun teori, selalu dinilai aspek ‘keilmiahannya’. Banyaknya
temuan ilmiah yang dihasilkan sekarang ini mencerminkan tingkat kreativitas peradaban yang
tinggi. Sayangnya, sebagian besar temuan tersebut dihasilkan oleh peradaban Barat, sementara
Indonesia masih jauh tertinggal. Hal inilah yang mendasari pemikiran bagaimana meningkatkan
kretivitas manusia Indonesia sejak dini melalui pendidikan di sekolah dasar.
Pendidikan di sekolah dasar merupakan fase penting dari perkembangan anak yang akan
mempengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa datang. Pada dasarnya, siswa
SD memiliki rasa ingin tahu, tanggap terhadap permasalahan dan kompleksitasnya, dan minat
untuk memahami fenomena secara bermakna. Sementara itu, kreativitas pada dasarnya
berkenaan dengan upaya mengenali dan memecahkan permasalahan yang dihadapi secara efektif
dan etis (Man, 2009). Oleh karena itu, penekanan pada kemampuan berpikir kreatif di tingkat
sekolah dasar menjadi penting.
Salah satu mata pelajaran di sekolah dasar yang dapat memfasilitasi upaya meningkatkan
kreativitas siswa adalah mata pelajaran sains. Dalam konteks pembelajaran sains SD, setiap
siswa memiliki gagasan/konsepsi tertentu terhadap suatu fenomena alam (Suratno, 2007; 2008).
Ragam konsepsi tersebut menunjukkan variasi pemikiran siswa dalam hal mengenali dan memecahkan permasalahan yang terkandung dalam suatu fenomena alam. Kenyataan ini
mengindikasikan keterkaitan antara pembelajaran sains dengan kreativitas. Oleh karena itu,
tulisan ini mencoba menggali konsep dasar dari kreativitas dan pengembangannya terutama
dalam mata pelajaran sains di tingkat SD.
DEFINISI KREATIVITAS
Kajian literature menunjukkan bahwa terdapat berbagai definisi mengaenai istilah kreativitas.
Banyak pakar yang memandang kreativitas sebagai suatu bentuk pemikiran (mental), sementara
beberapa kalangan menganggapnya sebagai upaya menghasilkan suatu produk. Secara umum,
The Oxford English Dictionary (1995) menjelaskan „creativity as being imaginative and
inventive, bringing into existence, making, originating‟. Oleh karena itu, istilah kreativitas
berkenaan dengan perubahan yang dapat menghasilkan gagasan baru: kapasitas untuk
menghasilkan gagasan yang orisinal, inventif dan baru.
Torrance (1984) mendefinisikan kreativitas sebagai ‘a process of becoming sensitive to
problems’ dan mengidentifikasi empat komponen kreativitas: 1) fluency, yaitu kemampuan untuk
menghasilkan banyak gagasan (large number of ideas); 2) fleksibilitas, yaitu kemampuan untuk
menghasilkan ragam gagasan (variety of ideas); 3) elaborasi, yaitu kemampuan untuk
mengembangkan gagasan; dan 4) orisinalitas, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan yang
tidak biasa. Sementara itu, beberapa pakar lain mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan
menghasilkan sesuatu atau pengetahuan baru (Simonton, 2000) atau kemampuan untuk
menghasilkan sesuatu yang baru dan efektif (Quigley, 1998). Apabila melihat keterkaitan antara
masalah ataupun pengalaman dengan kreativitas, Healy (1994) mendeskripsikan kreativitas
sebagai ‘the ability to generate, to approach problems in any field from fresh perspectives’,
sementara Schifter (1999) mendefinisikan kreativitas sebagai ‘the ability to take existing objects
and combine them in different ways for new purposes.
Pembahasan mengenai definisi kreativitas tersebut menunjukkan adanya keragaman
perspektif mengenai kreativitas. Keragaman tersebut memberikan tantangan terkait pemaknaan
terhadap bagaimana upaya mengembangkan berpikir kreatif siswa melalui pembelajaran sains.
Walaupun beragam definisi setidaknya dapat disimpulkan dasar dari pembelajaran berbasis
kreativitas: 1) setiap siswa memiliki potensi untuk kreatif; dan 2) kreativitas berkenaan dengan
upaya memadukan komponen yang belum padu menjadi lebih bermakna.
Kreativitas dalam pembelajaran sains secara umum berkenaan dengan kreativitas
akademik. Menurut Torrance & Goff (1990), kreativitas akademik merupakan ‘process of
thinking about, learning and producing information in school subjects such as science,
mathematics and history’. Dalam hal belajar sains siswa pada dasarnya lebih menyukai belajar
kreatif daripada menghafal informasi yang diberikan guru. Belajar kreatif dipandang akan
mempercepat pemahaman siswa karena dapat mengembangkan kemampuan menghubungkan
aktivitas imajinatif; menjadi imajinatif menunjukkan kemampuan untuk menginterpretasi sesuatu
secara tidak biasa. Sementara itu, Standler (1998) mencoba membedakan kreativitas dengan
intelejensia: orang yang pandai memiliki kemampuan untuk belajar dan berpikir, sementara
orang yang kreatif melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun
demikian, pada dasarnya kedua jenis kemampuan tersebut saling mendukung dan
mengembangkan.
Dalam konteks pendidikan di sekolah, Cropley (1992) mengajukan definisi pembelajaran
berbasis kreativitas sebagai proses yang mengembangkan kapasitas untuk memperoleh gagasan.
Hal serupa dikemukakan oleh Higgins (1994) yang mendefinisikan kreativitas sebagai "the process of generating something new that has value" yang berkaitan dengan istilah inovasi yang
diartikan sebagai "a creation that has a significant value". Oleh karena itu, pembelajaran sains
berbasis kreativitas menekankan pada fasilitasi siswa untuk menghasilkan gagasan baru yang
efektif dan etik (memiliki makna dan nilai). Dalam hal ini, kreativitas tidak hanya terkait gagasan
baru, tetapi bagaimana gagasan baru tersebut dapat memecahkan masalah secara efektif
(berguna/bermanfaat) dan memiliki nilai etis (tepat, tidak bermasalah secara normatif).
Kreativitas bukanlah berpikir imajinatif secara liar, tetapi lebih kepada berpikir kemungkinan
pemecahan masalah yang dihadapi secara tepat (Craft, 2000).
Walaupun terdapat berbagai definisi mengenai kreativitas, sebagian besar pakar memiliki
kesepahaman terkait dengan lima fase dari proses kreatif (Guilford, 1975; Idris, 2006). Pertama,
Fase Persiapan, memperoleh gagasan, merasakan dan mendefinisikan masalah. Kedua, Fase
Konsentrasi, memfokuskan pada masalah tertentu. Ketiga, Fase Inkubasi, keluar dari
permasalahan –hipotesis pemecahan masalah. Keempat, Fase Iluminasi, kemunculan gagasan.
Kelima, Fase Elaborasi, pengujian gagasan. Kelima fase tersebut mencerminkan bahwa proses
pembelajaran yang menekankan pada kreativitas siswa membutuhkan struktur tugas yang
memfasilitasi proses menghasilkan gagasan dan ragam pemecahan masalah, bukan drilling,
pemahaman permukaan ataupun pembahasan satu jawaban tertentu (Torrance, 1982).
KREATIVITAS DAN SAINS: KARAKTER ILMUWAN DAN SISWA YANG KREATIF
Sejarah sains menunjukkan bahwa dalam setiap generasi terlahir ilmuwan yang menghasilkan
karya yang bermanfaat, inovatif dan bermakna untuk pemecahan masalah kehidupan. Mereka
adalah ilmuwan yang kreatif. Weisberg (1986) membedakan kriteria antara ilmuwan yang kreatif
dan yang kurang kreatif. Pertama, ilmuwan yang kreatif memiliki pola pikir yang fleksibel dan
pemikiran yang berbeda (new ideas) yang efektif dan etis. Hal ini yang menyebabkan kelompok
ini dapat menghindari upaya-upaya yang tidak produktif dan memiliki pendekatan yang berbeda
terhadap suatu pemecahan masalah. Kedua, ilmuwan yang kreatif bersifat terbuka terhadap
permasalahan yang dihadapi sehingga menjadikannya lebih mampu mengeksplorasi pengalaman
baru dan mengamati fenomena secara cermat. Karakteri inilah yang menjadikan mereka dapat
mengenali potensi yang ada untuk menghasilkan suatu terobosan (breakthrough).
Dalam konteks pendidikan sains, walaupun tidak semua siswa akan menjadi saintis (cf.
Suratno, 2007), penekanan pada berpikir kreatif menjadi penting. Sebagaimana dikemukakan
oleh banyak pakar pendidikan sains (e.g. Suratno, 2006; Osborne, 2005; Leach & Scott, 2000),
terdapat kesamaan pola pikir generik antara saintis dengan siswa. Dalam konteks berpikir kreatif,
dua karakteristik yang telah dijelaskan di muka membagi siswa ke dalam dua kelompok: siswa
yang kreatif dan siswa yang kurang kreatif. Dalam hal ini, siswa yang kreatif memiliki pemikiran
yang fleksibel terhadap berbagai kemungkinan variabel yang melekat pada suatu fenomena
(berpikir multiperspektif. Fleksibilitas ini menjadikan siswa kreatif bersifat terbuka terhadap
berbagai pengalaman sehingga menjadi peka terhadap permasalahan dan berbagai atribut dari
suatu fenomena.
Siswa yang kreatif memiliki kecenderungan untuk tidak cepat puas terhadap suatu
penjelasan. Biasanya mereka bersikap skeptik, mempertentangkan ataupun berusaha menilai
argumentasi dari suatu penjelasan (cf. Osborne, 2005; Suratno, 2007). Selain itu, siswa yang
kreatif memiliki sifat elaboratif: menganalisis detail dari suatu penjelasan atau fenomena yang
mereka temukan (discovery) atau selidiki (investigation) (Meador, 1997).
Kesamaan tersebut juga dapat dilihat dari kerangka pikir yang dikembangkan oleh
Torrance (1996) dalam menganalisis tingkat kreativitas. Fluency (fasih) berkenaan dengan jumlah gagasan yang dihasilkan, fleksibilitas terkait dengan ragam pendekatan/metode dan
originalitas berkenaan dengan ‘kebaruan’ (novelty) atau keunikan dari gagasan yang dihasilkan
Identifikasi karakteristik siswa yang kreatif tersebut dapat menjadi dasar dalam pengembangan
strategi belajar yang mendukung bagaimana siswa SD dapat berpikir kreatif dalam pembelajaran
sains.
PENGEMBANGAN KREATIVITAS SISWA SD MELALUI PEMBELAJARAN SAINS
Pengajaran dan pembelajaran sains menekankan pada upaya membangun pemahaman terhadap
fenomena alam. Di dalam proses tersebut sebenarnya terkandung unsur berpikir kreatif dan
keterampilan berpikir untuk pemecahan masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, pembelajaran
tidak hanya sebatas pemahaman materi semata, tetapi juga terkait dengan aspek penalaran,
pemecahan masalah, komunikasi, dan metakognisi.
Pembelajaran sains di tingkat sekolah dasar menekankan pada pencapaian pemahaman
dan keterampilan ilmiah melalui proses yang dikenal sebagai science process skills
(keterampilan proses sains). Ostlund (1992) menyatakan bahwa ‘science process skills are “the
most powerful tools we have for producing and arranging information about our world”.
Keterampilan proses sains dipandang penting karena menempatkan siswa sekolah dasar seperti
seorang ilmuwan. Charlesworth & Lind (1995) mengembangkan hirarki keterampilan proses
sains dan membaginya ke dalam tiga tingkatan: dasar (basic), menengah (intermediate) dan
mahir (advanced) (Tabel 1.1).
Tabel 1. Hirarki Tingkatan Keterampilan Proses Sains (Charlesworth & Lind, 1995)
Tingkat Keterampilan
Dasar Menengah Mahir
Mengobservasi
Membandingkan
Mengelompokkan
Mengukur
Mengomunikasikan
Menginferensi
Memprediksi
Membuat hipotesis
Mendefinisikan
Mengendalikan variabel
Hirarki tersebut dapat digunakan oleh guru sekolah dasar dalam hal pengembangan
variasi pembelajaran (typical and differentiated lessons) serta pentahapan keterampilan proses
sains sesuai dengan perkembangan siswa. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa penting
bagi siswa untuk menguasai terlebih dulu keterampilan proses sains tingkat dasar karena akan
menjadi bekal untuk penguasaan keterampilan di tingkat menengah dan mahir. Sebagai contoh,
siswa perlu menguasai keterampilan mengobservasi agar dapat memiliki keterampilan
menginferensi yang didasarkan pada pengamatan.
Selain mengidentifikasi hirarki keterampilan proses sains, Charlesworh & Lind (1995)
juga menganalisis hubungan antara keterampilan proses sains dengan berpikir kreatif. Hubungan
dengan berpikir kreatif dikembangkan dari kriteria keterbukaan terhadap pengalaman,
fleksibilitas, ketidakpuasan terhadap penjelasan tertentu dan elaborasi. Tabel 1.2 menyajikan
hubungan diantara keduanya. Tabel 1.2 Hubungan antara keterampilan proses sains dengan berpikir kreatif
Keterampilan Keterampilan Proses Sains Berpikir Kreatif
Dasar
(Basic)
Mengobservasi Terbuka terhadap pengalaman: menjadi peka dan
jeli.
Membandingkan Fleksibilitas: membandingkan dari berbagai
sudut pandang.
Mengelompokkan Fleksibilitas dan Elaborasi: mempertimbangkan
berbagai cara untuk mengelompokkan sesuatu
serta memberikan detil karakteristik dari kriteria
kelompok
Mengukur (Biasanya keterampilan ini tidak terlalu
memerlukan proses berpikir kreatif).
Mengomunikasikan Elaborasi: memberikan penjelasan dengan jelas
dan lengkap.
Menengah
(Intermediate)
Menginferensi Fleksibilitas: memikirkan berbagai pemaknaan
sebelum memilih inferensi tertentu
Memprediksi Fleksibilitas dan Konvergensi:
mempertimbangkan berbagai kemungkinan
sebelum memilih yang paling memungkinkan.
Mahir
(Advanced)
Membuat Hipotesis Konvergensi: membuat hipotesis berdasarkan
kemungkinan terpilih, tidak mau cepat
mengambil kesimpulan jawaban.
Mendefinisikan dan
Mengendalikan Variabel
Elaborasi: merencanakan cara mengendalikan
variabel secara seksama.
Beberapa Contoh Pengembangan Kreativitas Siswa
Untuk memahami bagaimana cara mengembangkan berpikir kreatif melalui keterampilan proses
sains, deskripsi berikut memaparkan beberapa contoh praktis. Contoh yang disajikan bersifat
berbeda dengan pendekatan pembelajaran biasa yang umumnya menekankan pada hafalan
dimana guru memberikan informasi tanpa siswa mengolahnya secara bermakna. Craft (2000)
mengemukakan bahwa aktivitas belajar yang menyediakan berbagai pendekatan belajar dapat
memfasilitasi proses berpikir kreatif siswa. Hal senada dinyatakan oleh Tanner & Jones (2000)
yang menyarankan agar pembelajaran menyediakan berbagai permaslaahan baik dalam bentuk
tugas praktik, penyelidikan maupun pengamatan. Pendekatan seperti itu dapat memfasilitasi
sekaligus menjadi dasar penilaian aspek keterbukaan, fleksibilitas, konvergensi maupun
elaborasi berpikir siswa.

KENAKALAN REMAJA

(Kenakalan Remaja: Faktor Penyebab dan Tips Menghadapinya) – Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok,Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang. Dan saya pun pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika sebuah anak kelas satu SMA di kompelks saya, ditangkap/diciduk POLISI akibat menjadi seorang bandar gele, atau yang lebih kita kenal dengan ganja.
Hal ini semua bisa terjadi karena adanya faktor-faktor kenakalan remaja berikut:
– kurangnya kasih sayang orang tua.
– kurangnya pengawasan dari orang tua.
– pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.
– peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.
– tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah.
– dasar-dasar agama yang kurang
– tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya
– kebasan yang berlebihan
– masalah yang dipendam

Dan saya dapat memberikan beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:
  • Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
  • Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.
  • Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
  • Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
  • Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.
  • Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya.
  • Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.
  • Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah.
Artikel Kenakalan Remaja dari Sumber lain:
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.
Definisi kenakalan remaja menurut para ahli
• Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
• Santrock
“Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”

Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.
Jenis-jenis kenakalan remaja
• Penyalahgunaan narkoba
• Seks bebas
• Tawuran antara pelajar

Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal:
1. Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal: 
1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:
  1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
  2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
  3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
  4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
  5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Selasa, 13 Januari 2015











Menarik untuk dicermati, sajian data yang dihimpun oleh Pusat Pengujian Balitbang Depdiknas menunjukkan, bahwa rata-rata NEM SD untuk beberapa mata pelajaran masih rendah (Matematika: 5,2, IPA : 6,17). Untuk SLTP ternyata lebih rendah lagi (Matematika: 5,2 dan IPA: 4,85). Begitu pula laporan dari Reading Literacy Study (1994) sungguh mengejutkan, bahwa kemampuan membaca siswa SD kelas IV di Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dari sekitar 30 negara, sementara kemampuan IPA SLTA berada di urutan ke-33 dari 39 negara. (The Third International Mathematics and Science Study – Report, 1995).
Mengkritisi berbagai data dan laporan di atas, maka timbul beberapa pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana proses pembelajaran yang selama ini berlangsung? Dan bagaimana pula action ‘sang guru’ kita saat di kelas? Pertanyaan ini mungkin menjadi otokritik, tentang sejauhmana para guru telah melakukan inovasi dalam pembelajarannya.
Ditengarai selama ini, masih banyak guru yang belum melaksanakan tugas mengajarnya dengan optimal. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Dr. Soebagyo Brotosedjati mengatakan, “Hingga kini masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi pendidikan. Padahal salah satu kunci keberhasilan pendidikan terletak pada guru”. Menurut beliau masih ada sekira 47,5 % yang belum memenuhi standar kualifikasi sebagai guru.” (Suara Merdeka : 2002). Kenyataan ini begitu memilukan dan menjadi semacam “pil pahit” bagi dunia pendidikan. Sehingga tentu menjadi wajar sajian data di atas bahwa mutu pendidikan kita masih rendah.
Keberadaan guru dalam suatu proses pembelajaran sesungguhnya memiliki peran dan kedudukan yang signifikan. Dr. George Lozanov, seorang peneliti pendidikan dan tokoh Metode Pembelajaran Cepat dari Bulgaria berujar,” Pengaruh guru sangat jelas dalam kesuksesan siswa” (Lozanov : 1980). Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh pencetus Metode BelajarQuching (quantum teaching), Bobbi de Porter (2002) yang berpendapat bahawa guru itu sebagai penggubah keberhasilan belajar siswa.
Kedua pendapat tokoh tersebut barangkali ada benarnya, siswa akan lebih terkembangkan potensi, bakat dan minatnya manakala guru mampu membimbing dan mengarahkannya. Ketika di kelas, sebenarnya guru dituntut tidak hanya sebagai pen-transfer of knowledge ansich tetapi juga mampu memerankan diri sebagai pewaris nilai, pembimbing, fasilitator, rekan belajar, model, direktur dan motivator (Oemar Hamalik : 2001).
Pemahaman di atas bukan berarti guru sebagai sosok segala-galanya dan amat mendominasi. Siswa tetap diperlakukan sebagai subjek belajar yang memiliki kedudukan penting dalam proses pembelajaran.
Dengan berbagai atribut yanng sedemikian mulia namun sekaligus berat ini, maka menjadi sebuah keniscayaan (sine qua-non) bagi para guru untuk senantiasa melakukan berbagai inovasi dalam pembelajarannya. Kemampuan untuk melakukan inovasi ini tentu saja mensyaratkan sosok guru yang kreatif, produktif, cerdas, komitmen tinggi dan tidak merasa puas dengan keadaan yang sudah ada.


Inovasi Pembelajaran
Ketika mendengar kata inovasi, yang muncul di benak kita barangkali sesuatu yang baru, unik dan menarik. Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa kemanfaatan. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang ‘ baru ‘ atau ‘ lain ‘ dari biasanya, Begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan manusia (baca : siswa dan guru) yang memiliki karakteristik khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri, maju dan berprestasi.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi batasan, inovasi sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Dari pengertian ini nampak bahwa inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru, baik berupa alat, gagasan maupun metode. Dengan berpijak pada pengertian tersebut, maka inovasi pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Hasbullah (2001) berpendapat bahwa ‘baru’ dalam inovasi itu merupakan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi.
Menurut Gagne (1975), setidaknya ada empat fungsi yang harus dilakukan guru kaitannya sebagai motivator. Pertama, arousal function atau membangkitkan dorongan siswa untuk belajar. Kedua,expectancy funtion yaitu menjelaskan secara kongkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran. Ketiga, incentive function maksudnya guru memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai dalam rangka merangsang pencapaian prestasi berikutnya dan keempat,disciplinary function bahwa guru membantu keteraturan tingkah laku siswa.
Keempat fungsi tersebut, selayaknya diperankan dengan tepat oleh guru dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga diharapkan motivasi belajar siswa semakin lama akan semakin meningkat dan tinggi.


Contoh dan Bentuk Inovasi yang Sederhana 
Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pembelajaran.

Ditengarai bahwa dunia anak (baca : TK dan SD) merupakan dunia bermain, tetapi acapkali guru melupakan hal ini. Semestinya setiap guru dalam setiap proses pembelajarannya menciptakan suasana yang menyenangkan (fun), menggairahkan (horee), dinamis (mobile), penuh semangat (ekpresif) dan penuh tantangan (chalenge).
Oleh karena itu berbagai inovasi dapat dicoba untuk dikembannngkan walaupun amat sederhana. Beberapa bentuk inovasi yang sempat penulis cobakan, diantaranya:




Pembuatan yel-yel

 
Yel-yel ini biasanya dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, guru mengajak siswa untuk bersama-sama mengucapkan beberapa yel yang telah diajarkan kepada mereka.

Tujuannya :
1. menumbuhkan semangat belajar siswa.
2. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
3. mewujudkan hubungan yang akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Berbagai variasi yel dapat diciptakan oleh guru, dengan mengubah lagu tertentu yang sudah dihapal siswa serta menggunakan kepalan tangan, suara yang bersemangat, mimik muka serta kekompakan siswa dalam pengucapannya.
Penulis membagi pembuatan yel ini dalam dua bagian, yaitu yel-yel kelas, yang memberi semangat untuk pengkondisian kelas sehingga siswa siap belajar (apersepsi dan motivasi), dan yel-yel mata pelajaran yaitu memberi semangat untuk mengikuti pelajaran tertentu.

PRESTASI BELAJAR SISWA

Pengertian Prestasi Belajar Menurut Beberapa ahli


“Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin”.
 Pengertian prestasi
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.
            Pengertian Belajar
Untuk memahami tentang pengertian belajar di sini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa pendapat para ahli tentang definisi tentang belajar. Cronbach, Harold Spears dan Geoch dalam Sardiman A.M (2005:20) sebagai berikut :
1)   Cronbach memberikan definisi :
Learning is shown by a change in  behavior as a result of experience”.
“Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman”.
2)   Harold Spears memberikan batasan:
Learning is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to listen, to follow direction”.
Belajar adalah mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan.
3)   Geoch, mengatakan :
Learning is a change in performance as a result of practice”.
Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.
Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subyek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Belajar sebagai kegiatan individu sebenarnya merupakan rangsangan-rangsangan individu yang dikirim kepadanya oleh lingkungan. Dengan demikian terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan oleh seorang idnividu dapat dijelaskan dengan rumus antara individu dan lingkungan.
Fontana seperti yang dikutip oleh Udin S. Winataputra (1995:2) dikemukakan bahwa learning (belajar) mengandung pengertian proses perubahan yang relative tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Pengertian belajar juga dikemukakan oleh Slameto (2003:2) yakni belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Selaras dengan pendapat-pendapat di atas, Thursan Hakim (2000:1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dll. Hal ini berarti bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemampuan seseorang dalam berbagai bidang. Dalam proses belajar, apabila seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka orang tersebut sebenarnya belum mengalami  proses belajar atau dengan kata lain ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal dalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan, kemapuan dan sebaginya. Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasaran belajar yang memadai.
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993 : 77) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.
Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes yang relevan.

Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana  untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.Pengertian prestasi belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai atau tidak dapat dicapai. Untuk mencapai suatu prestasi belajar siswa harus mengalami proses pembelajaran. Dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa akan mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam pengusasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan dalam pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes angka nilai yang diberikan oleh guru ( Asmara. 2009 : 11 ).
Menurut Hetika ( 2008: 23 ), prestasi belajar adalah pencapaian atau kecakapan yang dinampakkan dalam keahlian atau kumpulan pengetahuan.
Harjati ( 2008: 43 ), menyatakan bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang dilakukan dam menghasilkan perubahan yang dinyatakan dalam bentuk simbol untuk menunjukkan kemampuan pencapaian dalam hasil kerja dalam waktu tertentu.
Pengtahuan , pengalaman dan keterampilan yang diperoleh akan membentuk kepribadian siswa, memperluas kepribadian siswa, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan kemampuan siswa. Bertolak dari hal tersebut maka siswa yang aktif melaksanakan kegiatan dalampembelajaran akan memperoleh banyak pengalaman. Dengan demikian siswa yang aktif dalam pembelajaran akan banyak pengalaman dan prestasi belajarnya meningkat. Sebaliknya siswa yang tidak aktif akan minim/sedikit pengalaman sehingga dapat dikatakan prestasi belajarnya tidak meningkat atau tidak berhasil.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai yang dinampakkan dalam pengetahuan, sikap, dan keahlian.