PENGEMBANGAN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN SAINS DI
SEKOLAH DASAR
Tatang Suratno
Abstrak
Kreativitas atau berpikir kreatif merupakan kemampuan seseorang dalam menghasilkan gagasan
baru yang efektif dan etis. Tulisan ini memaparkan tentang pentingnya pengembangan kreativitas
anak sejak dini di pendidikan sekolah dasar. Diawali dengan deskripsi mengenai pengertian
kreativitas serta dimensi-dimensi kreativitas yang dapat mendasari penilaian guru mengenai
tingkat kreativitas siswa. Dimensi tersebut dikaitkan dengan dimensi keterampilan proses sains
yang dapat memandu guru dalam pengembangan pembelajaran yang menekankan pada proses
berpikir kreatif siswa. Beberapa contoh mengenai pembelajaran sains disediakan terutama untuk
menjelaskan bagaimana proses sains dan proses kreatif serta diferensiasinya. Di bagian akhir
penulis berpendapat bahwa pengembangan kreativitas menjadi penting sebagai bekal bagi anak
untuk menghadapi tantangan dan pemecahan masalah di era informasi yang penuh perubahan.
Kata kunci: kreativitas, dimensi kreatif, keterampilan proses sains,
PENDAHULUAN
Di era informasi dan komunikasi, Indonesia memerlukan sumberdaya manusia yang kreatif dan
terampil untuk menghasilkan karya inovatif. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan sekolah
dasar (SD) menekankan pada bagaimana memfasilitasi belajar siswa untuk berpikir kreatif agar
memiliki kompetensi untuk bekerja sama, memahami potensi diri, meningkatkan kinerja dan
berkomunikasi secara efektif dalam setiap pemecahan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu,
pembelajaran di SD tidak hanya bertujuan untuk pemahaman pengetahuan saja, tetapi juga
kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang kompleks.
Kehidupan modern sekarang ini tidak terlepas dari aspek ilmiah (scientific enterprise).
Berbagai temuan, baik teknologi maupun teori, selalu dinilai aspek ‘keilmiahannya’. Banyaknya
temuan ilmiah yang dihasilkan sekarang ini mencerminkan tingkat kreativitas peradaban yang
tinggi. Sayangnya, sebagian besar temuan tersebut dihasilkan oleh peradaban Barat, sementara
Indonesia masih jauh tertinggal. Hal inilah yang mendasari pemikiran bagaimana meningkatkan
kretivitas manusia Indonesia sejak dini melalui pendidikan di sekolah dasar.
Pendidikan di sekolah dasar merupakan fase penting dari perkembangan anak yang akan
mempengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa datang. Pada dasarnya, siswa
SD memiliki rasa ingin tahu, tanggap terhadap permasalahan dan kompleksitasnya, dan minat
untuk memahami fenomena secara bermakna. Sementara itu, kreativitas pada dasarnya
berkenaan dengan upaya mengenali dan memecahkan permasalahan yang dihadapi secara efektif
dan etis (Man, 2009). Oleh karena itu, penekanan pada kemampuan berpikir kreatif di tingkat
sekolah dasar menjadi penting.
Salah satu mata pelajaran di sekolah dasar yang dapat memfasilitasi upaya meningkatkan
kreativitas siswa adalah mata pelajaran sains. Dalam konteks pembelajaran sains SD, setiap
siswa memiliki gagasan/konsepsi tertentu terhadap suatu fenomena alam (Suratno, 2007; 2008).
Ragam konsepsi tersebut menunjukkan variasi pemikiran siswa dalam hal mengenali dan memecahkan permasalahan yang terkandung dalam suatu fenomena alam. Kenyataan ini
mengindikasikan keterkaitan antara pembelajaran sains dengan kreativitas. Oleh karena itu,
tulisan ini mencoba menggali konsep dasar dari kreativitas dan pengembangannya terutama
dalam mata pelajaran sains di tingkat SD.
DEFINISI KREATIVITAS
Kajian literature menunjukkan bahwa terdapat berbagai definisi mengaenai istilah kreativitas.
Banyak pakar yang memandang kreativitas sebagai suatu bentuk pemikiran (mental), sementara
beberapa kalangan menganggapnya sebagai upaya menghasilkan suatu produk. Secara umum,
The Oxford English Dictionary (1995) menjelaskan „creativity as being imaginative and
inventive, bringing into existence, making, originating‟. Oleh karena itu, istilah kreativitas
berkenaan dengan perubahan yang dapat menghasilkan gagasan baru: kapasitas untuk
menghasilkan gagasan yang orisinal, inventif dan baru.
Torrance (1984) mendefinisikan kreativitas sebagai ‘a process of becoming sensitive to
problems’ dan mengidentifikasi empat komponen kreativitas: 1) fluency, yaitu kemampuan untuk
menghasilkan banyak gagasan (large number of ideas); 2) fleksibilitas, yaitu kemampuan untuk
menghasilkan ragam gagasan (variety of ideas); 3) elaborasi, yaitu kemampuan untuk
mengembangkan gagasan; dan 4) orisinalitas, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan yang
tidak biasa. Sementara itu, beberapa pakar lain mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan
menghasilkan sesuatu atau pengetahuan baru (Simonton, 2000) atau kemampuan untuk
menghasilkan sesuatu yang baru dan efektif (Quigley, 1998). Apabila melihat keterkaitan antara
masalah ataupun pengalaman dengan kreativitas, Healy (1994) mendeskripsikan kreativitas
sebagai ‘the ability to generate, to approach problems in any field from fresh perspectives’,
sementara Schifter (1999) mendefinisikan kreativitas sebagai ‘the ability to take existing objects
and combine them in different ways for new purposes.
Pembahasan mengenai definisi kreativitas tersebut menunjukkan adanya keragaman
perspektif mengenai kreativitas. Keragaman tersebut memberikan tantangan terkait pemaknaan
terhadap bagaimana upaya mengembangkan berpikir kreatif siswa melalui pembelajaran sains.
Walaupun beragam definisi setidaknya dapat disimpulkan dasar dari pembelajaran berbasis
kreativitas: 1) setiap siswa memiliki potensi untuk kreatif; dan 2) kreativitas berkenaan dengan
upaya memadukan komponen yang belum padu menjadi lebih bermakna.
Kreativitas dalam pembelajaran sains secara umum berkenaan dengan kreativitas
akademik. Menurut Torrance & Goff (1990), kreativitas akademik merupakan ‘process of
thinking about, learning and producing information in school subjects such as science,
mathematics and history’. Dalam hal belajar sains siswa pada dasarnya lebih menyukai belajar
kreatif daripada menghafal informasi yang diberikan guru. Belajar kreatif dipandang akan
mempercepat pemahaman siswa karena dapat mengembangkan kemampuan menghubungkan
aktivitas imajinatif; menjadi imajinatif menunjukkan kemampuan untuk menginterpretasi sesuatu
secara tidak biasa. Sementara itu, Standler (1998) mencoba membedakan kreativitas dengan
intelejensia: orang yang pandai memiliki kemampuan untuk belajar dan berpikir, sementara
orang yang kreatif melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun
demikian, pada dasarnya kedua jenis kemampuan tersebut saling mendukung dan
mengembangkan.
Dalam konteks pendidikan di sekolah, Cropley (1992) mengajukan definisi pembelajaran
berbasis kreativitas sebagai proses yang mengembangkan kapasitas untuk memperoleh gagasan.
Hal serupa dikemukakan oleh Higgins (1994) yang mendefinisikan kreativitas sebagai "the process of generating something new that has value" yang berkaitan dengan istilah inovasi yang
diartikan sebagai "a creation that has a significant value". Oleh karena itu, pembelajaran sains
berbasis kreativitas menekankan pada fasilitasi siswa untuk menghasilkan gagasan baru yang
efektif dan etik (memiliki makna dan nilai). Dalam hal ini, kreativitas tidak hanya terkait gagasan
baru, tetapi bagaimana gagasan baru tersebut dapat memecahkan masalah secara efektif
(berguna/bermanfaat) dan memiliki nilai etis (tepat, tidak bermasalah secara normatif).
Kreativitas bukanlah berpikir imajinatif secara liar, tetapi lebih kepada berpikir kemungkinan
pemecahan masalah yang dihadapi secara tepat (Craft, 2000).
Walaupun terdapat berbagai definisi mengenai kreativitas, sebagian besar pakar memiliki
kesepahaman terkait dengan lima fase dari proses kreatif (Guilford, 1975; Idris, 2006). Pertama,
Fase Persiapan, memperoleh gagasan, merasakan dan mendefinisikan masalah. Kedua, Fase
Konsentrasi, memfokuskan pada masalah tertentu. Ketiga, Fase Inkubasi, keluar dari
permasalahan –hipotesis pemecahan masalah. Keempat, Fase Iluminasi, kemunculan gagasan.
Kelima, Fase Elaborasi, pengujian gagasan. Kelima fase tersebut mencerminkan bahwa proses
pembelajaran yang menekankan pada kreativitas siswa membutuhkan struktur tugas yang
memfasilitasi proses menghasilkan gagasan dan ragam pemecahan masalah, bukan drilling,
pemahaman permukaan ataupun pembahasan satu jawaban tertentu (Torrance, 1982).
KREATIVITAS DAN SAINS: KARAKTER ILMUWAN DAN SISWA YANG KREATIF
Sejarah sains menunjukkan bahwa dalam setiap generasi terlahir ilmuwan yang menghasilkan
karya yang bermanfaat, inovatif dan bermakna untuk pemecahan masalah kehidupan. Mereka
adalah ilmuwan yang kreatif. Weisberg (1986) membedakan kriteria antara ilmuwan yang kreatif
dan yang kurang kreatif. Pertama, ilmuwan yang kreatif memiliki pola pikir yang fleksibel dan
pemikiran yang berbeda (new ideas) yang efektif dan etis. Hal ini yang menyebabkan kelompok
ini dapat menghindari upaya-upaya yang tidak produktif dan memiliki pendekatan yang berbeda
terhadap suatu pemecahan masalah. Kedua, ilmuwan yang kreatif bersifat terbuka terhadap
permasalahan yang dihadapi sehingga menjadikannya lebih mampu mengeksplorasi pengalaman
baru dan mengamati fenomena secara cermat. Karakteri inilah yang menjadikan mereka dapat
mengenali potensi yang ada untuk menghasilkan suatu terobosan (breakthrough).
Dalam konteks pendidikan sains, walaupun tidak semua siswa akan menjadi saintis (cf.
Suratno, 2007), penekanan pada berpikir kreatif menjadi penting. Sebagaimana dikemukakan
oleh banyak pakar pendidikan sains (e.g. Suratno, 2006; Osborne, 2005; Leach & Scott, 2000),
terdapat kesamaan pola pikir generik antara saintis dengan siswa. Dalam konteks berpikir kreatif,
dua karakteristik yang telah dijelaskan di muka membagi siswa ke dalam dua kelompok: siswa
yang kreatif dan siswa yang kurang kreatif. Dalam hal ini, siswa yang kreatif memiliki pemikiran
yang fleksibel terhadap berbagai kemungkinan variabel yang melekat pada suatu fenomena
(berpikir multiperspektif. Fleksibilitas ini menjadikan siswa kreatif bersifat terbuka terhadap
berbagai pengalaman sehingga menjadi peka terhadap permasalahan dan berbagai atribut dari
suatu fenomena.
Siswa yang kreatif memiliki kecenderungan untuk tidak cepat puas terhadap suatu
penjelasan. Biasanya mereka bersikap skeptik, mempertentangkan ataupun berusaha menilai
argumentasi dari suatu penjelasan (cf. Osborne, 2005; Suratno, 2007). Selain itu, siswa yang
kreatif memiliki sifat elaboratif: menganalisis detail dari suatu penjelasan atau fenomena yang
mereka temukan (discovery) atau selidiki (investigation) (Meador, 1997).
Kesamaan tersebut juga dapat dilihat dari kerangka pikir yang dikembangkan oleh
Torrance (1996) dalam menganalisis tingkat kreativitas. Fluency (fasih) berkenaan dengan jumlah gagasan yang dihasilkan, fleksibilitas terkait dengan ragam pendekatan/metode dan
originalitas berkenaan dengan ‘kebaruan’ (novelty) atau keunikan dari gagasan yang dihasilkan
Identifikasi karakteristik siswa yang kreatif tersebut dapat menjadi dasar dalam pengembangan
strategi belajar yang mendukung bagaimana siswa SD dapat berpikir kreatif dalam pembelajaran
sains.
PENGEMBANGAN KREATIVITAS SISWA SD MELALUI PEMBELAJARAN SAINS
Pengajaran dan pembelajaran sains menekankan pada upaya membangun pemahaman terhadap
fenomena alam. Di dalam proses tersebut sebenarnya terkandung unsur berpikir kreatif dan
keterampilan berpikir untuk pemecahan masalah yang dihadapi. Dalam hal ini, pembelajaran
tidak hanya sebatas pemahaman materi semata, tetapi juga terkait dengan aspek penalaran,
pemecahan masalah, komunikasi, dan metakognisi.
Pembelajaran sains di tingkat sekolah dasar menekankan pada pencapaian pemahaman
dan keterampilan ilmiah melalui proses yang dikenal sebagai science process skills
(keterampilan proses sains). Ostlund (1992) menyatakan bahwa ‘science process skills are “the
most powerful tools we have for producing and arranging information about our world”.
Keterampilan proses sains dipandang penting karena menempatkan siswa sekolah dasar seperti
seorang ilmuwan. Charlesworth & Lind (1995) mengembangkan hirarki keterampilan proses
sains dan membaginya ke dalam tiga tingkatan: dasar (basic), menengah (intermediate) dan
mahir (advanced) (Tabel 1.1).
Tabel 1. Hirarki Tingkatan Keterampilan Proses Sains (Charlesworth & Lind, 1995)
Tingkat Keterampilan
Dasar Menengah Mahir
Mengobservasi
Membandingkan
Mengelompokkan
Mengukur
Mengomunikasikan
Menginferensi
Memprediksi
Membuat hipotesis
Mendefinisikan
Mengendalikan variabel
Hirarki tersebut dapat digunakan oleh guru sekolah dasar dalam hal pengembangan
variasi pembelajaran (typical and differentiated lessons) serta pentahapan keterampilan proses
sains sesuai dengan perkembangan siswa. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa penting
bagi siswa untuk menguasai terlebih dulu keterampilan proses sains tingkat dasar karena akan
menjadi bekal untuk penguasaan keterampilan di tingkat menengah dan mahir. Sebagai contoh,
siswa perlu menguasai keterampilan mengobservasi agar dapat memiliki keterampilan
menginferensi yang didasarkan pada pengamatan.
Selain mengidentifikasi hirarki keterampilan proses sains, Charlesworh & Lind (1995)
juga menganalisis hubungan antara keterampilan proses sains dengan berpikir kreatif. Hubungan
dengan berpikir kreatif dikembangkan dari kriteria keterbukaan terhadap pengalaman,
fleksibilitas, ketidakpuasan terhadap penjelasan tertentu dan elaborasi. Tabel 1.2 menyajikan
hubungan diantara keduanya. Tabel 1.2 Hubungan antara keterampilan proses sains dengan berpikir kreatif
Keterampilan Keterampilan Proses Sains Berpikir Kreatif
Dasar
(Basic)
Mengobservasi Terbuka terhadap pengalaman: menjadi peka dan
jeli.
Membandingkan Fleksibilitas: membandingkan dari berbagai
sudut pandang.
Mengelompokkan Fleksibilitas dan Elaborasi: mempertimbangkan
berbagai cara untuk mengelompokkan sesuatu
serta memberikan detil karakteristik dari kriteria
kelompok
Mengukur (Biasanya keterampilan ini tidak terlalu
memerlukan proses berpikir kreatif).
Mengomunikasikan Elaborasi: memberikan penjelasan dengan jelas
dan lengkap.
Menengah
(Intermediate)
Menginferensi Fleksibilitas: memikirkan berbagai pemaknaan
sebelum memilih inferensi tertentu
Memprediksi Fleksibilitas dan Konvergensi:
mempertimbangkan berbagai kemungkinan
sebelum memilih yang paling memungkinkan.
Mahir
(Advanced)
Membuat Hipotesis Konvergensi: membuat hipotesis berdasarkan
kemungkinan terpilih, tidak mau cepat
mengambil kesimpulan jawaban.
Mendefinisikan dan
Mengendalikan Variabel
Elaborasi: merencanakan cara mengendalikan
variabel secara seksama.
Beberapa Contoh Pengembangan Kreativitas Siswa
Untuk memahami bagaimana cara mengembangkan berpikir kreatif melalui keterampilan proses
sains, deskripsi berikut memaparkan beberapa contoh praktis. Contoh yang disajikan bersifat
berbeda dengan pendekatan pembelajaran biasa yang umumnya menekankan pada hafalan
dimana guru memberikan informasi tanpa siswa mengolahnya secara bermakna. Craft (2000)
mengemukakan bahwa aktivitas belajar yang menyediakan berbagai pendekatan belajar dapat
memfasilitasi proses berpikir kreatif siswa. Hal senada dinyatakan oleh Tanner & Jones (2000)
yang menyarankan agar pembelajaran menyediakan berbagai permaslaahan baik dalam bentuk
tugas praktik, penyelidikan maupun pengamatan. Pendekatan seperti itu dapat memfasilitasi
sekaligus menjadi dasar penilaian aspek keterbukaan, fleksibilitas, konvergensi maupun
elaborasi berpikir siswa.
This is good information!!! Please visit my blog and leave a comment : haniftryn.blogspot.com
BalasHapusBagus bagus artikelnya
BalasHapusNice post
BalasHapusNice post gan sangat memotivasi saya untuk kreatif
BalasHapuspostingan yg bagus, dan bermanfaat sekali:)
BalasHapus